Ilusi Sosial, Fanatisme, dan Anime.

17:42

Pertama-tama, mari kita bahas apa itu Sensai, Persepsi, Ilusi, dan Fanatisme.

Sensasi adalah tahap pertama stimuli mengenai indra kita. Sensasi berasal dari kata “sense” yang artinya alat pengindraan, yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya. Menurut Dennis Coon, “Sensasi adalah pengalaman elementer yang segera, yang tidak memerlukan penguraian verbal. Simbolis, atau konseptual, dan terutama sekali berhubungan dengan kegiatan alat indera.” (1)

Definisi sensasi, fungsi alat indera dalam menerima informasi dari lingkungan sangat penting. Kita mengenal lima alat indera atau pancaindera. Kita mengelompokannya pada tiga macam indera penerima, sesuai dengan sumber informasi. Sumber informasi boleh berasal dari dunia luar (eksternal) atau dari dalam diri (internal). Informasi dari luar diindera oleh eksteroseptor (misalnya, telinga atau mata). Informasi dari dalam diindera oleh ineroseptor (misalnya, system peredaran darah). Gerakan tubuh kita sendiri diindera oleg propriseptor (misalnya, organ vestibular). (2)

Persepsi merupakan pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli). Sensasi adalah bagian dari persepsi. Persepsi, seperti juga sensasi ditentukan oleh faktor personal dan faktor situasional. Faktor lainnya yang memengaruhi persepsi, yakni perhatian. (3)

Persepsi adalah proses pemahaman ataupun pemberian makna atas suatu informasi terhadap stimulus. Stimulus didapat dari proses penginderaan terhadap objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan antar gejala yang selanjutnya diproses oleh otak. Proses kognisi dimulai dari persepsi. (4)

Ilusi adalah suatu persepsi panca indera yang disebabkan adanya rangsangan panca indera yang ditafsirkan secara  salah. Dengan kata lain, ilusi adalah interpretasi yang salah dari suatu rangsangan pada panca indera. Sebagai contoh, seorang penderita dengan perasaan yang bersalah, dapat meng-interpretasikan suara gemerisik daun-daun sebagai suara yang mendekatinya. Ilusi sering terjadi pada saat terjadinya ketakutan yang luar biasa pada penderita atau karena intoksikasi, baik yang disebabkan oleh racun, infeksi, maupun pemakaian narkotika dan zat adiktif. (5)

Fanatisme adalah suatu keyakinan atau suatu pandangan tentang sesuatu, yang positif atau yang negatif, pandangan yang tidak memiliki sandaran teori atau pijakan kenyataan, tetapi dianut secara mendalam sehingga susah diluruskan atau diubah. Menurut definisinya, Fanatisme biasanya tidak rasional atau keyakinan seseorang yang terlalu kuat dan kurang menggunakan akal budi sehingga tidak menerima faham yang lain dan bertujuan untuk mengejar sesuatu. Adanya fanatisme dapat menimbulkan perilaku agresi dan sekaligus memperkuat keadaan individu yang mengalami deindividuasi untuk lebih tidak terkontrol perilakunya. Fanatisme dipandang sebagai penyebab menguatnya perilaku kelompok yang tidak jarang dapat menimbulkan perilaku agresi. Individu yang fanatik akan cenderung kurang memperhatikan kesadaran sehingga seringkali perilakunya kurang terkontrol dan tidak rasional. (6)



Lalu, apa hubungan teori-teori diatas dengan Anime?

Seperti yang sudah saya bahas di postingan yang lalu (klik disini), Sindrom Hikikomori yang dialami oleh para maniak Anime ini dapat menyebabkan ilusi kepada penderitanya. Saat sang penderita mulai tersadar bahwa iya terbelakang di dalam dunia sosial, ia mulai mempunyai ilusi bahwa orang-orang lah yang membenci dan menjauhinya. Karena sifat fanatisme mereka terhadap dunia dua dimensi, mereka menganggap bahwa dunia nyata tidaklah seasik dunia dua dimensi dan mulai membenci balik dunia sosial. Ilusi ini membuat sang penderita dan kehidupan sosialnya semakin menjauh.

Saat seperti ini, peran keluarga dan orang tua sangat penting untuk menarik kembali sang penderita ke dunia realitas dan belajar menjalani kehidupannya.

Referensi:

Anime Mempengaruhi Keadaan Psikologis Seseorang?

13:34

Apakah kalian pernah mendengar istilah 'Anime'? Saat ini hampir semua orang mengerti apa arti dari Anime. Anime adalah Animasi Kartun yang berasal dari Jepang. Saat ini, banyak sekali orang yang tergila-gila dengan Anime. Mulai dari anak kecil yang memang suka melihat acara animasi, hingga orang dewasa yang mencari hiburan. Di postingan ini, tema yang akan saya bahas adalah 'Psikologi dalam Komunikasi' dengan topik Anime. Kira-kira apa hubungannya?


Media komunikasi modern semakin luas konteksnya. Mulai dari media cetak, media siar, hingga film. Dalam konteks ini, Anime termasuk ke dalam media komunikasi.

Semakin dewasa ini, genre dan macam anime semakin beragam. Kini, Anime bukan lagi tontonan bagi anak kecil. Varian seperti genre Psychological, Thriller, Action, Horror, Mystery, Sci-Fi, hingga Gore yang menampilkan darah dan bagian tubuh manusia secara eksplisit menarik segala macam kalangan menjadi audiensnya. Tidak sedikit, yang menjadi maniak. "I will die if I don't watch Anime even for a day." atau "Anime is healtier than sleep." adalah kutipan yang sudah melegenda diantara para maniak Anime.

Dengan mindset para maniak yang seperti itu, sudah ada yang tidak beres dengan mereka. Prioritas mereka telah kacau dan mereka sudah susah membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya hidup di dunia dua dimensi saja. Walaupun terlihat ringan, dan para maniak ini terlihat seperti orang normal diluar, sebenarnya ini adalah hal yang cukup serius.

"Manusia adalah mahluk sosial." adalah kutipan yang entah bersumber dari mana namun selalu diajarkan dimanapun. Manusia dasarnya memanglah mahluk sosial, mereka tidak bisa bertahan hidup sendiri. Namun, para maniak Anime ini lebih memilih membuang kehidupan sosialnya untuk menghabiskan semua waktunya demi menonton dan menikmati dunia dua dimensi mereka. Munculah anggapan bahwa Otaku ekuivalen dengan Ansos (Anti Sosial), walaupun ini hanyalah stereotype belaka.

Lalu, apa bahasan topik diatas mengenai tema 'Psikologi dalam Komunikasi'?

Dampak psikologi yang diakibatkan oleh media komunikasi, Anime memang terlihat spele. Namun, ini telah dikategorikan kepada penyakit atau sindrom di negara asal Anime itu sendiri, Jepang. Penyakit ini dinamai Hikikomori (ひきこもり atau 引き籠り) yang berarti social withdrawal atau penarikan diri terhadap sosial. Proses penyembuhannya pun tidak mudah, karena ini sudah termasuk penyakit psikologis.

Anime memang seru dan obat yang sangat pas untuk pelepas penat. Ditambah, varian genre dan macam plotnya yang sangat beragam. Namun, ada baiknya untuk menonton dengan sifat moderasi dan masih mengetahui mana yang harus di prioritaskan.